Nasional

UMKM Asal Bogor Ini Olah Kentang Jadi Keripik Sehat Tanpa MSG

Spread the love

– Mononatrium glutamat (MSG) atau mecin kerap digunakan sebagai bumbu penyedap saat membuat keripik dan kering kentang. jokergaming

Berbeda dari kebanyakan, si Cemplon, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengolah kentang ini justru tidak menggunakan campuran mecin sama sekali.

“Kami bergerak di pengolahan kentang. Bedanya dengan usaha sejenis, kentang yang diolah itu dicampur dengan bumbu kaldu seafood,” kata Marwan Abdul Aziz, pemilik si Cemplon.

Seafood berupa udang dan teri yang digunakan oleh si Cemplon diolah langsung menjadi kaldu bubuk sehingga aman dikonsumsi.

Proses mengolah keripik dan kering kentang milik si Cemplon pun pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan usaha serupa.

Kentang akan dibersihkan terlebih dahulu, lalu diparut, direndam, digoreng, lalu dibumbui dengan kaldu seafood.

“Kami produksi paling tidak seminggu dua hingga tiga kali. Misalnya produksi hari ini setengah jadi dulu, besok dilanjut. Kalau kita produksi langsung selesai hari ini, agak berat karena SDMnya terbatas,” kata Marwan.

Menerapkan zero waste

Selain menghindari penggunaan mecin, si Cemplon juga berusaha untuk meminimalisir sampah sisa produksi.

Hal ini terlihat dari pengolahan sampah kulit kentang menjadi keripik layak jual yang dilakukan oleh si Cemplon.

“Kami punya satu produk itu ada namanya keripik kulit kentang. Jadi dari kulit kentang kita olah menjadi keripik seperti umumnya. Walaupun masih mikro, kami juga punya kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Marwan.

Lebih lanjut, Marwan mengatakan bahwa dirinya memiliki komitmen untuk mendonasikan minyak jelanta dari sisa pengolahan keripik dan kering kentang si Cemplon.

“Ada rekanan kami di Bogor, namanya bank dan perpustakaan sampah. Kami serahkan minyak jelantah, nanti sama bank sampah tersebut akan diolah menjadi biodiesel,” ujar Marwan.

“Nah nanti penjualan sisa kentang tersebut dipakai untuk kesejahteraan lingkungan. Misalnya buat TPA atau sumbangan penelitian,” tambahnya.

/Krisda Tiofani Produk kering kentang dan keripik milik si Cemplon.

Dari warung kecil di Indonesia sampai ke Singapura

Sebelum memiliki banyak variasi produk olahan kentang dan sistem pengolahan berkelanjutan, Marwan mengatakan, kering kentang miliknya hanya dijual di warung dekat rumah.

“Kami mulai 2017. Produknya dikemas pakai plastik transparan, diikat di tali dan dijual ke warung, sederhana banget lah,” kata Marwan.

Marwan menuturkan, dirinya bersama istri mulai mencoba mengikuti pendaftaran UMKM di Kota Bogor untuk mengembangkan usahanya.

“Si Cemplon ini awalnya sampingan dari bisnis lain, bisnis perlengkapan tidur waktu itu. Sayangnya karena omzetnya terus turun, jadi tambah susut. Akhirnya istri saya menginisiasi untuk bikin produk seperti ini, akhirnya fokus juga di sini dan prospeknya ternyata bagus,” tutur Marwan.

Setelah resmi terdaftar sebagai UMKM di bawah naungan Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian Kota Bogor, keduanya aktif mengikuti pelatihan terkait pemasaran dan pengolahan produk.

“Sampai akhirnya ketemu salah satu e-commerce, ikut pelatihan macam-macam. Akhirnya dapat banyak hal di situ termasuk pemasaran, untuk sampai saat ini, omzet sekitar 70 persen itu sebenarnya dari online,” kata Marwan.

Tidak hanya penjualan via online, si Cemplon juga dijual di beberapa swalayan lokal serta toko oleh-oleh di Bogor dan Jakarta. Bahkan, produk olahan kentang ini juga berhasil masuk pasar Singapura.

“Kami aktif di media sosial. Banyak orang yang suka dan tertarik dengan konsep produk ini hingga salah satu investor menawarkan masuk ke retail dia,” kata Marwan.

Kini, si Cemplon memiliki enam varian produk olahan kentang, yakni Kering Kentang Rasa Gurih Udang Non MSG, Kering Kentang Keju Bakar Non MSG Pedas, Kering Kentang Panggang Non MSG Rasa Seafood Pedas,dan Teri Kentang Non MSG Rasa Seafood Pedas.

Serta varian Kering Kentang Non MSG Rasa Seafood dan Keripik Kulit Kentang NON MSG Rasa Seafood Pedas yang dijual seharga Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per kemasan.

A post shared by Foodplace (@my.foodplace)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.