Keuangan

Tingkatkan Permodalan, BPR Didorong Untuk Melantai Di Bursa

Spread the love

Jakarta – Bank Perkreditan Rakyat (BPR), khususnya POJK No. 5/ POJK.03/2015. slot pulsa

Untuk itu, terbuka kemungkinan dan peluang bagi BPR untuk mengamankan dana pasar modal melalui rencana terbuka, karena DPR bersedia mendukung upaya amandemen UU 10 tentang Perbankan tahun 1998.

Komisioner XI DPR Musthofa, salah satu cabang PDIP DPR RI, mendukung penuh upaya restrukturisasi korporasi industri untuk meningkatkan permodalan melalui inisiatif publik.

Menurutnya, fungsi dan peran BPR tidak jauh berbeda dengan bank umum, yakni menjalankan fungsi intermediasi, namun BPR dipandang sebelah mata.

Mustafa berbicara di sebuah seminar tentang kemungkinan dan peluang pekerjaan publik dan Go Digital BPR. Ditulis pada Sabtu (22-06-18).

“Jangan khawatir investor asing mencuri uang dari luar negeri,” lanjut Mustafa.

Sebagai tindak lanjut dari pidato yang diterbitkan ulang, partai juga berjanji untuk mentransfernya ke Republik Demokratik Rakyat Bang-A.

“Pekerjaan MPR bersifat kolektif, harus melibatkan anggota dewan yang lain, dan tidak bisa bekerja sendiri-sendiri,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Perbankan Perkreditan Rakyat Indonesia (Barbarindo) Joko Suyanto mengatakan IPO atau Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) merupakan impian industri restrukturisasi korporasi, salah satunya adalah upaya peningkatan modal.

Pembukaan restrukturisasi bisnis kepada publik memiliki beberapa manfaat, antara lain insentif pajak, peningkatan nilai perusahaan, peningkatan kesadaran pasar, peningkatan loyalitas karyawan, akses pembiayaan baru, dan peningkatan tata kelola perusahaan (GCG).

Selain manfaat tersebut, Joko mencatat ada beberapa hal yang perlu dibenahi saat BPR dilepas ke publik: delusi, pengendalian kepemilikan, transparansi dan pelaporan yang harus dilakukan secara profesional, biaya yang terkait dengan pasar modal, dan pasar. tekanan. , organisasi dan implementasi juga.

“Tantangan. Regulasi dan kegunaannya, ditambah lagi kalau sekarang rumit, akan jauh lebih rumit saat melakukan IPO.”

Dewan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dedek Madiono mengatakan, ada banyak peluang yang bisa dijajaki oleh BPR atau BPRS.

Di atas segalanya, meningkatnya permintaan akan BPR atau BPRS, yang dapat menyediakan produk dan layanan perbankan digital yang inovatif, beragam, terjangkau, aman, dan mudah diakses kapan saja, di mana saja, dapat menjadi peluang untuk mempercepat transformasi digital.

Hal ini juga mendorong BPR atau BPRS untuk menawarkan saham untuk penawaran umum. Hal ini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan modal, meningkatkan efisiensi dan profitabilitas serta memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

Modal inti minimal BPR telah ditetapkan sebesar Rp6 miliar yang harus dipenuhi paling lambat 31 Desember 2024, namun masih banyak BPR dengan modal inti di bawah Rp6 miliar.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.