Teknologi

Seluk Beluk Jurnalisme Di Era Digital

Spread the love

– Di tengah era digital saat ini, menyebarkan informasi dan menjadi sumber berita merupakan perkara yang mudah. Hanya sejauh menekan layar gawai, setiap orang bisa disebut sebagai “jurnalis”. slot online

Tak heran, semakin banyak clickbait dan misinformation yang terkadang membuat sulit bagi kita untuk membedakan antara fakta dan pernyataan berlebihan.

Pertanyaan yang muncul kemudian: Apa Makna Jurnalisme yang Kredibel?

Pada Jumat 13 Mei 2022 lalu, Managing Editor Johanes Heru Margianto diundang Universitas Muhammadiyah Malang untuk menyampaikan materi “Penulisan Jurnalistik”.

Ia memulai pelatihan dengan bertanya, “apa itu jurnalisme?”. Pertanyaan sederhana, namun tidak semudah itu dalam memaknainya.

Setiap penulis akan memikirkan topik yang akan ditulis. Seorang jurnalis akan mempertimbangkan adanya 10 nilai berita: faktual, magnitude, dampak, proximity, unik, prominence, human interest, konflik, kejutan, dan informatif bagi khalayak.

Poin-poin tersebut dapat digunakan jurnalis untuk menentukan jika sebuah kejadian layak dibagikan ke audiens mereka.

Setelah menentukan topik, seorang jurnalis harus menetapkan gaya penyampainnya. Jurnalisme ada berbagai gaya: hard news, feature, dan opinion.

Ketika hard news menuntut ketat suara objektif dan sepenuhnya berdasarkan fakta, maka feature boleh menulis lebih “santai” dan emosional namun tetap bersikap netral.

Sedangkan opinion memberikan pandangan subjektif dari pengalaman penulis. Setiap gaya ada tujuan dan pendekatan berbeda sehingga tidak bisa dijadikan rata semua.

Apapun topik dan gaya terpilih, tulisannya harus tetap mengikuti kode etik jurnalisme untuk dianggap kredibel. Itu yang membedakan penulisan jurnalistik dan sekedar konten tulisan.

Ketika mengembangkan keterampilan jurnalistik, Heru Margianto percaya membaca dan menulis sebagai ilmu penting dikuasai jurnalis. Seorang jurnalis akan berhadapan dengan berbagai topik dan membaca dapat memberikan wawasan baru.

Selain itu, jam terbang dalam menulis juga menjadi pondasi untuk membangun struktur artikel dan melihat langsung apa yang perlu dikembangkan.

Situs seperti Medium cocok untuk penulis independen. Sedangkan media kampus, seperti Bestari, dapat melatih menulis di bawah institusi.

Kembali lagi ke pertanyaan, “apa makna jurnalisme yang kredibel?”. Apapun tulisannya, seorang jurnalis harus mempertimbangkan audiens dan informasi yang diberikan. Apakah informasi ini menguntungkan? Bagaimana pembaca akan bereaksi?

Karena pada akhirnya, seorang jurnalis menulis untuk dibaca massa. Jelas dan ringkas merupakan kunci untuk menghindari kesalahpahaman. Mengutip dari materi Heru Margianto, “jurnalisme memiliki dimensi kepentingan publik, bukan sekadar tulisan atau laporan belaka.”

Mendengar materi pemaparan Heru Margianto, Ketua Bagian Karir dan Alumni UMM dan penyelenggara lokakarya Fien Zulfikarijah, merasa dirinya bertambah wawasan. Para mahasiswa juga memperhatikan dan banyak bertanya.

Salah satu tujuan dari lokakarya ini adalah untuk membangun semangat mahasiswa untuk menulis dan menerbitkan hasilnya.

Menurut Fien menulis adalah sebuah keterampilan yang dapat menguntungkan mahasiswa, perguruan tinggi dan negara mereka. Fien mengaku, mahasiswa sesungguhnya pintar, dengan arahan sesuai, mereka bisa mengasah keterampilan menjadi lebih baik.

Edukasi terhadap media menjadi pengetahuan berharga.

Gramedia menyediakan akses untuk berilmu dari Heru Margianto sendiri agar bisa menyampaikan berita yang baik dan benar.

Pelatihan daring ini tersedia di Karier.mu dan Kognisi.id, dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mendalamkan ilmu jurnalistik mereka.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.