Nasional

Positivity Rate Covid-19 Naik, Kemenkes Sebut Masih Di Bawah Standar WHO

Spread the love

Jakarta – Angka positif Indonesia sebesar 2,1% saat kasus Covid-19 melonjak. Ini lebih tinggi dari sebelumnya 1,4%. situs judi slot gacor

Angka positif menjadi salah satu indikator evaluasi pengendalian COVID-19.

Pada 10 Juni 2022, tingkat positif adalah 1,4%, sekarang menjadi 2,1%.

Dia secara hipotetis mengatakan pada Kamis (16 Juni 2022) bahwa “Siapa yang menyatukan di bawah 5%. Jadi, syukurlah, kami masih memiliki tingkat positif 2,1%”.

Menurut dia, jumlah kasus terkonfirmasi saat ini memang meningkat, namun peningkatannya tidak signifikan.

Demikian juga frekuensi nyerinya juga lebih sedikit. Korban tewas menyusul.

Syahril berkata lagi: Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemungkinan kasus akibat subvariabel BA.4 dan BA.5 tidak separah Omicron, khususnya Delta.

Kasus Transparan Covid-19
Ribuan kasus Covid-19 di Indonesia kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Dari 8 hingga 14 Juni 2022, jumlah kasus yang dikonfirmasi meningkat menjadi 500.

Namun, menurut data terakhir yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 15 Juni, jumlah kasus terkonfirmasi di Jakarta sebanyak 732 dari 517. Secara nasional, ada 1.242 kasus.

Terkait hal tersebut, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Dr. Mohamed Siahrel, Sp.P, MPH mengkonfirmasi adanya peningkatan kasus di bulan Juni.

Ini sudah terjadi sejak 10 Juni lalu. Itu 627, tetapi tiga hari pasang surut berlalu.

Saat ini hingga 1242 kasus.

Bahkan, pada Kamis 16 Juni 2022, dia mengatakan “lima daerah dengan jumlah infeksi tertinggi saat ini adalah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.”

Tapi, katanya, pasang surut, termasuk morbiditas dan mortalitas, merupakan bagian dari epidemi, meski terkendali.

“Jangan terlalu panik dengan kenaikannya. Dan jangan terlalu senang jika sedang menurun karena kita masih dalam wabah.

“Kami khawatir bagaimana cara mengendalikannya jika angka ini naik,” kata Siahrel lagi.

Ia juga mengatakan, pengalaman menunjukkan bahwa peningkatan kasus di banyak negara disebabkan munculnya varian atau subvariabel baru.

Sekarang dipengaruhi oleh sub-variabel baru, Omicron, yaitu BA.4 dan BA.5.

“Kami bisa mengontrol kenaikan, tapi kami ingin mengontrolnya. Tidak seperti tahun lalu, baik Omicron maupun Delta mengalami peningkatan,” pungkasnya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.