Kesehatan

Ketahui Faktor Risiko Alzheimer Yang Sering Dialami Orang Lanjut Usia

Spread the love

– Alzheimer adalah salah satu penyakit paling umum dari demensia, dan kerap dialami orang lanjut usia (lansia). slot gacor

Penyakit ini mengakibatkan gangguan penurunan fungsi otak, yang dapat memengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku hingga kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Akibatnya, seseorang dengan alzheimer dapat menjadi pikun.

Organisasi non-profit Alzheimer Indonesia (ALZI), menyebut berdasarkan data Alzheimer’s Disease International dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2017, prevalensi alzheimer di seluruh dunia diperkirakan sekitar 46,8 hingga 50 juta orang.

Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada tahun 2016. Jumlah ini berpotensi meningkat menjadi 2 juta kasus di tahun 2030, dan 4 juta kasus di tahun 2050 mendatang.

Neurolog dan Guru Besar FK UNIKA Atma Jaya, Prof Dr dr Yuda Turana, SpS (K); menjelaskan bahwa usia merupakan faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, kanker, osteoporosis, dan sebagainya.

Kondisi ini juga dapat dialami otak, di mana fungsinya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.

“Otak kita pun mengalami degeneratif, itu yang disebut dengan demensia,” ungkap Yuda dalam konferensi pers memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2022, Jumat (27/5/2022).

Kendati biasanya dialami orang di atas 65 tahun, ada juga pasien yang terkena alzheimer sejak usianya 40 tahunan atau 50 tahunan.

Terkait dengan faktor risiko alzheimer, kata Yuda, usia adalah penyebab yang paling umum dan tidak dapat diubah.

Namun, dia menyampaikan bahwa ada beberapa faktor risiko lain yang dapat diubah, di antaranya:

“Usia muda memang betul tergantung dari pola hidup, pola hidup yang menyangkut aspek fisik dan pola hidup yang menyangkut psikis juga. Artinya olahraganya sering tetapi stresnya juga banyak, itu bisa jadi faktor risiko (alzheimer),” imbuhnya.

Gejala alzheimer

Adapun gejala alzheimer antara lain:

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif ALZI Michael Dirk R. Maitimoe mengatakan, bahwa penting untuk mengatasi stres yang bisa menyebabkan kepikunan sejak dini. Terlebih, pada usia produktif yang memiliki segudang pekerjaan.

“Anak muda relate dengan stres, dengan berbagai kerjaan sangat produktif sehingga melupakan waktu me time. Kenapa me time sangat diperlukan? Supaya otak kita bisa kembali fresh, bisa dibayangkan ketika otak sudah terlalu banyak digunakan, bisa memengaruhi daya ingat,” terangnya.

Artinya, alzheimer bisa dicegah dengan menghindari faktor risiko dari penyakit itu sendiri, seperti:

Baca juga: Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.