Internasional

Hasil Studi Terbaru ASM: Konservasi Alam Di ASEAN Bisa Tumbuhkan Ekonomi 2,19 Triliun Dolar AS

Spread the love

JAKARTA – Academy of Sciences Malaysia (ASM) merilis hasil studi terbaru terkait potensi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati di wilayah Asia Tenggara, Rabu (22/6/2022). slot gacor 2022

Studi ASM yang dilakukan di seluruh wilayah ASEAN tersebut mengungkapkan bahwa Asia Tenggara memiliki alam dan keanekaragaman hayati yang dapat menarik dana sebesar 2,19 triliun dolar AS ke ekonomi di kawasan ini.

Laporan ASM tersebut menilai, angka tersebut bahkan bisa lebih besar lagi jika negara-negara di kawasan ini memprioritaskan konservasi dan restorasi.

Laporan ini merupakan laporan terlengkap dari laporan lain sejenis yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan alam di kawasan ini saling terkait dan bahwa konservasi bisa menjadi dasar bagi aktivitas ekonomi di kawasan yang menghasilkan kekayaan, lapangan pekerjaan, serta keamanan pangan.

Perwakilan ASM, Dr Helen Nair mengatakan, Asia Tenggara memiliki penduduk yang terus bertambah, serta semakin menekan sumber daya alam yang melimpah di kawasan ini.

Studi ini yang bertajuk, The Nexus of Biodiversity Conservation and Sustainable Socioeconomic Development in Southeast Asia, memberikan argumentasinya bahwa seiring bertambahnya penduduk–serta kebutuhan akan pembangunan–, kawasan ASEAN tidak mesti mengikuti arah dari negara-negara kaya G7 yang menghabiskan modal nasional serta membangun ekonomi mereka.

Alih-alih, pemimpin di kawasan ini harus memperhatikan hasil badan penelitian yang menunjukkan bahwa negara-negara dapat dan harus mencapai pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan melalui strategi yang melindungi alih-alih menghancurkan sumber daya alamnya.

Menurut laporan ini, keanekaragaman hayati yang kaya dan luas di Asia Tenggara, bentangan alam yang utuh, termasuk hutan tropis, hutan bakau, serta ekosistem lainnya, dapat menempatkan kawasan ini menjadi sebuah contoh tentang bagaimana memperoleh dan mengambil nilai dari alam.

Sebagai rumah dari tiga negara dari 17 negara dengan keberagaman terbesar (World’s 17 megadiverse nations) dan hotspot keanekaragaman hayati, yaitu Indonesia, Malaysia, dan FIlipina, Asia Tenggara memiliki kesempatan yang unik untuk melakukan riset, teknologi, dan kolaborasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdasarkan alam.

Dr Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Komite Pengarah Global, Campaign for Nature menjelaskan, laporan ini memberi kejelasan bahwa Asia Tenggara merupakan suatu harta karun yang kaya dengan keanekaragaman hayati yang tidak ada bandingannya di atas bumi ini.

“Jelas bahwa para pemimpin di kawasan ini dapat menggunakan keanekaragaman hayati ini sebagai keunggulan ekonominya. Kawasan ASEAN dapat dan harus menjadi contoh bagi negara-negara lainnya di dunia dalam hal menumbuhkan ekonomi secara berkelanjutan,” kata dia.

Studi ini juga menunjukkan studi kasus yang berhasil dilakukan di kawasan ASEAN yang mengungkapkan bagaimana perlindungan alam telah berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi kawasan ini serta memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Studi ini di antaranya:

● Proyek Rimba Raya Biodiversity Reserve di Indonesia merupakan sebuah contoh keberhasilan dari solusi iklim berbasis alam.

Proyek ini merupakan proyek REDD+ terbesar di dunia, yang berhasil menghambat deforestasi 65.000 hektar hutan yang awalnya akan diubah menjadi perkebunan sawit.

Sebagai proyek kredit karbon terkemuka di dunia–pendapatan yang dihasilkan telah berkontribusi bagi keamanan pangan, peluang pendapatan, perawatan kesehatan, dan pendidikan bagi masyarakat setempat.

● Sebagai rumah bagi elang Filipina yang terancam punah, the Mt. Kitanglad Range Natural Park (MKRNP) di Filipina merupakan juga tanah asal leluhur tiga suku adat: suku Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon.

Kelompok adat ini berperan aktif dalam Dewan Pengelolaan Kawasan Lindung atau Protected Area Management Board (PAMB) dari taman ini, yang berhasil mengurangi aktivitas ilegal serta pelanggaran serta perluasan ekowisata di taman ini.

● Sebuah prakarsa di Tun Mustapha Park (TMP) di Malaysia, yaitu taman laut seluas 898.763 hektar–taman laut terbesar di negara ini serta are lindung laut multiguna terbesar ini mencoba melestarikan keanekaragaman hayati, melindungi spesies langka, mengembangkan perikanan lokal, serta mengurangi kemiskinan bagi penduduk pesisir yang berpenduduk 85.000 orang.

Sebagai sebuah kolaborasi di antara masyarakat setempat, badan pemerintah, mitra internasional, dan organisasi swadaya masyarakat, taman ini menaungi 250 spesies terumbu karang, 400 spesies ikan, serta berbagai spesies yang terancam punah, seperti ikan duyung, berang-berang, paus bungkuk, dan penyu.

● Sebuah proyek yang berhasil di di Laos dan Vietnam yang berupaya melindungi 200.000 hektar hutan di sepanjang deretan pegunungan Annam dari aktivitas ilegal, mendorong pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan, dan melestarikan spesies unik serta keanekaragaman hayati.

Proyek ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi karbondioksida sebesar 1,8 juta ton dalam waktu lima tahun.

● Untuk memulihkan hutan bakau yang terdegradasi, sumber pangan penting, seperti madu dan kepiting, masyarakat setempat di Thailand mengkampanyekan larangan pembalakan komersial dari hutan bakaunya.

Mereka selanjutnya melanjutkan dengan memulihkan serta melindungi ekosistem yang meningkatkan pendapatan mereka.

Professor Pervaiz Ahmed, Sunway University, Malaysiauntu menyebut, laporan ini menunjukkan keberhasilan studi kasus di semua negara anggota ASEAN yang menunjukkan bagaimana perlindungan alam dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

“Namun contoh-contoh ini hanyalah awal dari apa yang bisa diraih lebih banyak lagi oleh kawasan ini dalam memanfaatkan kemajuan ilmiah dan teknologi terbaru,” katanya.

Untuk mencapai tujuan ini, makalah ini mengusulkan agar semua negara anggota ASEAN mendukung target global 30×30 di dalam negosiasi CBD serta mengimplementasikan di tingkat nasional, suatu pendekatan yang lebih menyeluruh pada pembangunan ekonomi berbasis alam yang dicirikan dengan “pengampu 8i”: infrastruktur, info-struktur, modal intelektual, sistem integritas, insentif, institusi, interaksi, dan internasionalisasi.

Dana yang dibutuhkan diusulkan melalui berbagai insentif ekonomi dan keuangan bagi pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk ASEAN Biodiversity Conservation Sovereign Fund.

Untuk mendukung pendekatan ini, pemerintah perlu menciptakan kemitraan baru yang efektif di seluruh sektor serta memanfaatkan sepenuhnya data ilmiah dan teknologi terbaik. 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.