Berita

10 Ton Ikan Di Waduk Darma Kuningan Mati Mendadak, Ini Penyebabnya

Spread the love

KUNINGAN, – Ribuan ikas mas dan nila di kawasan Kolam Jaring Apung (KJA) Waduk Darma, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ditemukan mati mendadak. Ikan tersebut mati diduga karena perubahan cuaca yang ekstrem. microgaming

Kematian ribuan ekor ikan mas dan nila sempat divideokan warga Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan.

Video dan foto-foto tersebut menunjukkan ribuan ikan yang ditemukan mati mendadak. Bangkai ribuan ikan menutup permukaan danau Waduk Darma.

Sebagian ikan ditemukan dalam kondisi mabuk. Dalam file video lainya, sejumlah pembudidaya Kolam Jaring Apung (KJA) mengobral ikannya.

Mereka terpaksa menjual dengan harga murah daripada tidak laku sama sekali, untuk menutup kerugian yang berkali lipat.

Ikin Sodikin, salah satu petambak KJA, membenarkan kejadian itu. Dia bersedih karena selama satu pekan dari 23-28 Mei 2022, ikannya banyak yang mabuk.

Dia langsung menjual dengan harga murah, yakni Rp 10.000 dari seharusnya Rp 25.000 perkilo.

“Satu minggulah. Setiap hari ada saja yang mabuk. Bukan hanya saya, semuanya sama. Ada yang mati, ada yang mabuk. Yang mati langsung dibuang, atau dikubur. Yang mabuk dijual murah, Rp 10.000–15.000 perkilo. Biasanya mahRp 25.000–30.000 perkilo,” ujar Ikin kepada saat ditemui di waduk, Senin (30/5/2022) petang.

Dia menyebut, ada sekitar 5 ton ikan yang mati mendadak selama satu pekan.

Jumlah itu hitungan kasar bersama teman-teman petambak KJA yang tinggal di Desa Jagara Kecamatan Darma, belum desa lainnya.

Ikin yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi petambak KJA ikan mas dan nila menduga, kematian ikan-ikan itu terjadi karena perubahan iklim.

Ikan tidak mendapatkan pasokan oksigen yang baik sehingga tidak dapat bertahan hidup, mabuk, dan mati.

Dia berusaha menyelamatkan ikan yang tersisa di 6 kolam. Masing-masing kolamberisi sekitar 4 kwintal.

Denni Rianto, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Kuningan membenarkan ribuan ikan mati tersebut.

Berdasarkan data sementara, ada 10 ton ikan mati mendadak dari total tiga desa. Yakni Desa Cipasung, Darma, dan Jagara, Kecamatan Darma.

Kejadian ini berlangsung selama satu pekan pada 23-28 Mei 2022.

“Data sementara ada 10 ton ikan. Ada yang mabuk dan ada yang mati. Ini data sementara ya,” kata Denni kepada saat ditemui di kantornya Senin (30/5/2022).

Jumlah 10 ton ini, menurut Denni, lebih baik. Pasalnya, di tahun 2019–2020, kematian tertinggi pernah mencapai 50–90 ton.

Penurunan ini terjadi karena tim Dinas Perikanan dan Peternakan melakukan pencegahan secara massif.

Denni terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga untuk mengatasi fenomena kematian ikan-ikan ini. 

Lebih lanjut, Denni menjelaskan, fenomena ini dikenal sebagai istilah “Upwelling”. Upwelling adalah fenomena air yang di berada di bagian dasar, tiba-tiba naik ke permukaan air. Air yang ada di permukaan berputar ke dasar.

“Upwelling ini adalah perputaran air. Air yang di atas ke bawah, dan yang ada di bawah ke atas. Hal ini bisa terjadi karena berat jenis air yang berbeda akibat adanya perubahan suhu yang signifikan, dalam waktu beberapa lama. Kejadian yang kemarin itu perubahan suhu cukup lama disertai hujan deras, sehingga air dingin, berat, dan terjadi upwelling,” jelas Denni.

Sedangkan air yang berada di bagian bawah atau dasar laut memiliki kandungan amoniak yang tinggi, dan rendah oksigen terlarut. Akibatnya ikan-ikan ini kesulitan bernapas. Ikan kekurangan oksigen, kemudian mabuk, yang tidak kuat akan mati.

Denni mengklaim, sejak sosialisasi dan pencegahan secara intens, pemerintah berhasil menekan jumlah kematian. 90 ton ikan mati terjadi di tahun 2019, menjadi 50 ton di tahun berikutnya.

Pada 2022 ini, jumlah kematian sekitar 10 ton. Pemerintah terus berusaha menekan dampak fenomena upwelling di tahun-tahun mendatang.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.